Menjemput Si Jilbab Syar'i
annida-online.com
Segala sesuatu di dunia ini butuh proses. Ingin menjadi pintar, butuh proses. Ingin kaya, perlu proses. Pun dengan menjadi baik, butuh proses. Banyak orang yang tak berhijab, bila ditanya ‘kapan akan berhijab?’, biasanya menjawab, ‘nunggu hidayah’. Padahal hidayah itu tak datang dengan sendirinya. Hidayah tak lalu tiba-tiba muncul dalam satu malam atau satu hari tanpa sebab. Hidayah perlu dijemput. Hidayah perlu dirangsang. Hidayahpun perlu proses.
Saya ingin bercerita pengalaman saya dalam mendapatkan hidayah untuk berhijab syar’i. Hidayah itu tak serta-merta saya dapatkan dalam waktu singkat. Tapi butuh enam tahun lamanya. Waktu yang lumayan tak singkat.
Dimulai saat akan masuk SMA, saya begitu galau memutuskan apakah nanti ke sekolah dengan berhijab atau tidak. Waktu itu saya termasuk cewek tomboy, tergabung dalam tim basket. Teman-teman seangkatan—yang notabene dari lingkungan yang sama dengan saya—memutuskan untuk berhijab. Dan keputusan mereka mempengaruhi pikiran saya. Separuh pikiran tidak ingin berhijab, namun separuhnya lagi ingin mengikuti teman-teman. Malu lah, kalau tak berhijab sendiri. Begitu pikir saya.
Pada saat mengisi formulir apakah saya akan memilih seragam yang berhijab atau tidak, saya lama sekali berpikir. Penting sekali mengisi formulir tersebut, karena kan mempengaruhi panjang kain jahitan yang akan diterima, disesuaikan dengan tujuannya. Jika ingin berhijab, maka kain yang diterima akan lebih panjang dibandingkan dengan yang tidak berhijab. Nah, saya galau sekali saat mengisi formulir itu. Teman-teman yang lain sudah mengumpulkan, namun saya belum tetap memilih. Berhijab atau tidak. Orang tua saat itu membebaskan saya mau berhijab atau tidak. Keputusan sepenuhnya di tangan saya. Maka di saat-saat terakhir pengumpulan, saya akhirnya mengisi formulir tersebut dengan keterangan berhijab. Rasa malu saya pada teman-teman waktu itu mengalahkan separuh pikiran saya tentang keinginan tak berhijab.